Tips Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Memilih Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai solusi pembiayaan rumah gampang-gampang susah. Pasalnya dewasa ini begitu banyak Kredit KPR Murah yang ditawarkan. Masing-masing tentu saja dengan jurus saktinya untuk memikat hati konsumen.

Agar tak salah pilih, simak beberapa tips berikut ini:

1.   Reputasi Bank dan Pengembang

Membeli Rumah KPR adalah investasi jangka panjang. Jadi, pastikan Anda berurusan dengan pihak-pihak yang dapat dipercaya kredibilitasnya. Jangan ragu-ragu untuk bertanya kiri-kanan serta mencari informasi lebih detil tentang bank atau pengembang yang menjadi mitranya.

2. Perhatikan Bunga KPR Tersebut

Maklum, besarnya patokan bunga ini sangat menentukan besar angsuran tiap bulan. Ada baiknya Anda memilih bank yang mengutip bunga rendah. Biasanya, bank juga menetapkan bunga tetap (fixed rate) selama beberapa tahun pertama dan bunga mengambang (floating rate) sesuai dengan bunga pasar di tahun-tahun berikutnya.

Jangan lupa tanyakan besaran bunga yang berlaku untuk nasabah lama. Dengan mengetahui selisih bunga antara nasabah baru dan nasabah lama, Anda bisa membandingkan patokan bunga bank bila bank sudah memberlakukan floating rate atau ada tren kenaikan suku bunga.

Selain itu, Anda juga harus mewaspadai kenaikan bunga tiap tahunnya. Pasalnya, banyak bank kini menentukan bunga tetap (fixed) hanya untuk satu tahun dan sisanya bisa naik (floating) tergantung sejumlah kondisi, seperti pajak rumah, harga tanah, biaya perijinan, dan sebagainya.

‘Untuk sistem floating ini bisa dikatakan resiko ditanggung ke konsumen, karena bunganya bisa naik sewaktu-waktu,’ ungkapnya.

3. Perhatikan Jangka Waktu Kredit

Maksimal 10 tahun Dengan jangka waktu pinjaman 10 tahun, namun dengan bunga tetap satu tahun bisa dikatakan cukup merugikan konsumen. Tapi di sisi lain, banyak bank yang masih takut memperkecil jangka waktu peminjaman. Pasalnya, bank mewaspadai tingkat pengangsuran (repayment) nasabah.

‘Padahal tipikal nasabah Indonesia juga mereka tidak mau berhutang lama kok. Bahkan, dari 10 tahun jangka pinjaman, rata-rata efektif waktu pelunasan nasabah itu cuma tujuh tahun. Jadi bank semestinya tidak perlu khawatir,’ tambahnya.

4. Pilih KPR dengan Rumah Ready Stock

Kini banyak developer yang menawarkan rumah, tapi masih berupa tanah atau hanya gambar. Ini yang perlu diwaspadai. Pasalnya, bila KPR sudah cair, tapi rumah masih dalam proses pembangunan, maka biaya konstruksi bakal dikenakan kepada nasabah. Selain itu, molornya waktu penyelesaian pembangunan dari target awal juga rawan terjadi. Akibatnya, konsumen bakal membayar lebih tinggi dari rencana awal.

‘Oleh karena itu, lebih baik memilih KPR dengan rumah yang sudah jadi untuk meminimalisir resiko,’ imbaunya.

5. Perhatikan Semua Persyaratan dan Ketentuan yang Ditetapkan

Hal ini bukan untuk mempersulit, melainkan untuk kejelasan antar pihak-pihak terkait sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Pastikan Anda memahami dan melengkapi semua persyaratan Rumah KPR Murah yang ditetapkan sehingga permohonan Kredit Pemilikan Rumah dapat lebih cepat diproses.

Banner-Kredit-Pemilikan-Rumah

6. Datangi Bank Sebagai Konsultan Keuangan

Sekedar mengingatkan, bila Anda sudah memutuskan untuk membeli rumah, sebaikanya datangi pihak perbankan terlebih dahulu, jangan ke developer. Pasalnya bank bisa memberikan Anda alternatif rumah dengan jumlah keterbatasan dana yang Anda punya.

Namun, satu hal yang tak kalah penting yaitu ungkapkan segala keinginan dan kesulitan Anda kepada pihak bank. Karena pihak bank dalam hal ini tak lain adalah sebagai konsultan keuangan (counsellor) Anda. Bagaimana pun, bank harus menjelaskan secara terbuka kepada nasabah. Dengan demikian, nasabah pun akan merasa dihargai dan terciptalah kepercayaan di antara kedua belah pihak.

7. Akad Adalah Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) 

Di awal perjanjian KPR dengan developer, Anda dan developer hanya terikat dengan PPJB, belum ada sertifikat jual beli bangunannya. Pasalnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah Propinsi, tak hanya di DKI Jakarta, tapi juga di beberapa daerah lainnya.

Sejak 2000, akta jual beli baru bisa diberikan kepada konsumen saat proses pembangunan rumah sudah mencapai 75 persen. Sebelumnya, setifikat masih atas nama pengembang (developer) dan bisa dilakukan pemecahan akta kavling dengan syarat terdapat area seluas 10 ribu ha.

Namun, sebelum menjatuhkan KPR, tetapkan rumah dan lokasi rumah sesuai dengan kriteria Anda. Jangan memilih lokasi rumah yang terlalu jauh, karena itu akan memberatkan keuangan Anda.

Sekian tips untuk Kredit Pemilikan Rumah. Semoga bermanfaat.

1 Comment

Leave a Response