MOH. TAUKID, SE. MM (Dirut PT. BPR Danaberkah Lestari): “Jujur, Kerja Keras dan Do’a Modal Utama Hidup”

Ya, tiga hal itulah yang menjadi modal utama Moh. Taukid dalam menjalani kehidupan. Walaupun lahir dari seorang buruh tani disebuah kampung Kota Kediri, tak membuatnya patah arang untuk menggapai masa depan yang lebih cerah. Terbukti dengan kerja keras, disertai kejujuran dan do’a, Moh. Taukid saat ini menjadi Direktur Utama PT. BPR Danaberkah Lestari.

Meski waktu kecil Moh. Taukid tak pernah mempunyai cita-cita, pria kelahiran Kediri, 25 Juli 1968 ini memiliki prinsip bahwa hidup akan lebih baik jika mempunyai ilmu. Oleh karenanya, ia terus giat belajar dan kerja keras menggapai masa depan yang lebih cerah. Meski sempat putus sekolah karena kendala ekonomi saat kelas 3 SD, niatnya untuk terus belajar masih terus tertanam. Hingga selang 2 tahun kemudian Moh. Taukid melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, kemudian lanjut ke SMAN 1 Kota Kediri.

Moh-Taukid“Waktu kecil saya tak pernah punya cita-cita, yang penting bisa urip (hidup) aja. Dulu saat dikampung, hobi saya itu berburu jangkrik dan burung. Jadi manjat pohon itu udah biasa, yang namanya di kampung ya sangat dekat dengan alam,” ujar Moh. Taukid mengenang masa kecilnya.

Ada hal menarik saat ia bersekolah di SMAN 1 Kediri. Pasalanya, saat itu ia merasakan telah salah masuk sekolah. Hingga pada tahun pertama, ia pun ingin pindah. Dan selama kelas 1, ia hanya mempunyai sedikit teman saja. Mungkin, kata Moh. Taukid saat itu banyak yang menghindar darinya, karena setiap pagi ia harus mencangkul dulu di sawah sebelum berangkat ke sekolah dan mengayuh sepeda yang jaraknya berkilo-kilo meter dari rumahnya, hingga sampai di sekolah bajunya sudah basah kuyup oleh kucuran keringat.

“Mungkin itu yang membuat anak-anak sekolah menghindar, karena merasa tidak nyaman berdekatan dengan saya. Atau karena mereka adalah anak-anak orang berkelas, seperti pejabat, pengusaha dan PNS. Namun saya hanyalah seorang anak buruh tani. Itulah yang membuat saya tidak betah bersekolah pada tahun pertama SMA,” kata anak pertama dari tujuh bersaudara ini.

Biarpun dalam keadaan tak nyaman saat itu, karena alasan ingin maju, ia terus melanjutkan pendidikan sekolahnya. Hal itupun yang menjadi pemicu Moh. Taukid untuk berperstasi. Tak jarang, setelah kelas 2 SMA ia sering mendapat peringkat di kelasnya dan menjadi perwakilan sekolah dalam event-event kejuaraan antar sekolah di Jawa Timur dan juga mendapatkan beasiswa. Oleh karenanya, sejak itu banyak yang mendekat ingin menjadi temannya.

“Setelah tamat SMA saya ingin lanjut kuliah. Jadi waktu SMA, saya sekolah sambil kerja dan hasilnya saya tabungkan untuk membeli sepeda. Dengan harapan ketika lulus, sepeda itu saya jual untuk sekedar daftar kuliah. Namun takdir berkata lain. Dua minggu menjelang lulusan, sepeda saya raib dibondol maling. Pupus sudah harapan saya waktu itu untuk bisa kuliah,” ungkap suami dari Adi Sulistiani kepada Media BPR DBL beberapa waktu lalu di kantornya. Jl. Proklamasi Raya Blok D No. 10 Ruko Depok II Timur.

Nilai-nilai kejujuran dan kerja keras yang ditanamkan orang tua pada dirinya, membuat Moh. Taukid selalu bangkit dari keterpurukan. Setelah tamat SMA, ia bekerja di Malang selama dua tahun. Hingga akhirnya pada tahun 1991 ia hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib menjadi pengajar les privat, sambil kuliah di Akademi Keuangan & Perbankan Patricia Jakarta. Pada tahun 1994 setelah usai pendidikan D3 nya, ia bekerja di BPR DBL sebagai Acounting, Marketing, Acount Officer, dan bagian lainnya, hingga tahun 1997 ia dipercaya menjadi salah satu Direktur. Setahun sebelumnya, tepatnya tahun 1996 ia lulus menjadi Sarjana Ekonomi di STIE Bhakti Pembangunan.

“Saya berharap perusahaan ini (BPR DBL) maju pesat dan berkualitas. Serta memberi manfaat kepada masyarakat sekitar dengan menjaga kejujuran dan selalu bekerja keras menjadi yang terbaik. Bagi saya yang penting adalah nilai-nilai kejujuran dan kerja keras. Itu adalah harga mati dimanapun kita berada. Tentunya dengan selalu berdo’a pada Allah pastinya,” pungkas Lulusan Magister Universitas Krisnadwipayana, yang menjadi Direktur Utama BPR DBL sejak tahun 2006 ini mengutarkan harapannya. Mi’roji

Leave a Response