Teknik Rectoverso, Cara BI Hindari Pemalsuan Uang

Seperti ramai diberitakan, Bank Indonesia (BI) kini resmi menerbitkan sebelas pecahan uang baru, yaitu uang kertas pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000 serta uang logam pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100. Untuk menghindari pemalsuan uang, BI dalam mencetak uang rupiah menggunakan pengaman yang disebutnya Rectoverso. Dengan teknik ini, gambar uang akan terlihat tidak beraturan bila dilihat dari satu sisi, namun bila diterawang akan menghasilkan gambaran yang utuh dan jelas.

Terkait isu kemiripan lambang tertentu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hendar mengatakan itu tidaklah benar.

“Jadi kalau ada yang mengatakan mirip lambang tertentu, itu tidak benar. Semua unsur yang ada di uang rupiah dimaksudkan untuk kepentingan pengamanan uang agar tidak mudah dipalsukan,” kata Hendar usai sosialisasi pengenalan uang rupiah tahun emisi 2016 di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, seperti dilansir Tempo.Co pada Rabu (28/12/16)

Hendar menambahkan, teknik rectoverso telah dipakai BI sejak tahun 1993 dan logo BI dengan teknik tersebut sejak tahun 2001. Pun dengan pencetakannya, telah melalui tahap dan kontrol yang sangat ketat dan hanya boleh dilakukan oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia atau biasa disebut Peruri.

“Pencetakan uang oleh Peruri berada di bawah kontrol ketat BI. BI sendiri berada di dalam kontrol ketat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Artinya desain, jumlah dan nominal uang pengamanannya dari BI,” imbuh Hendar. Lebih lanjut ia mengatakan, bila terjadi gagal cetak Peruri berkewajiban mengembalikan uang tersebut kepada BI untuk dimusnahkan.

Sumber: Tempo.Co

Leave a Response